Rabu, 15 Mei 2013

Mata Pelajaran Banyak, Ini Alasannya

Banyaknya beban pelajaran para siswa sekolah dasar (SD) ternyata mempunyai filosofi tersendiri. Guru Besar Universitas Negeri Jakarta Prof. Dr. Soedijarto, MA. bertutur, di negara-negara maju, siswa-siswa memang tidak dibebani banyak mata pelajaran. Untuk level SMA, kebanyakan hanya memasang lima mata pelajaran yang masuk jadwal. Pelajaran-pelajaran lain biasanya melebur ke dalam lima mata pelajaran pokok itu.

Jadi, siswa bisa mempelajari dua pelajaran dalam satu pelajaran saja. Misalnya, belajar sejarah ketika belajar bahasa. Sistem ini dapat diterapkan karena pemerintah negara-negara tersebut mendukung pendidikannya dengan fasilitas yang memadai.

Tiap sekolah memilliki sarana yang lengkap, seperti ruang kelas yang nyaman, perpustakaan dengan koleksi buku termutakhir dan dalam jumlah banyak, laboratorium, dan sarana olahraga. Ketersediaan sarana yang lengkap itulah yang mendukung kegiatan beiajar mengajardi sekolah.

Prof. Soedijarto memaparkan, ketika menemui Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef, dia sempat menyarankan untuk mengurangi beban mata pelajaran para siswa, seperti di Negara-negara lain yang sudah maju.

“Kata Pak Daoed dulu, ‘Sekolah hanya memberi sedikit mata pelajaran karena siswa dapat belajar sendiri dari buku-buku yang mereka sediakan. Nah, kalau di sini, kalau mata pelajaran sedikit, kemudian buku-buku juga enggak ada, siswa mau belajar apa?‘” tuturnya.

Selain itu, sistem pendidikan di negara maju juga mendukung anak bereksplorasi sesuai minat mereka. Soedijarto berujar, sekolah-sekolah di luar negeri baru selesai pada sore hari, di jam yang kurang lebih sama dengan waktu para orangtua pulang kerja. Dengan begitu, ketika pulang ke rumah, para siswa bisa bertemu dan berinteraksi dengan orangtua mereka. Sementara di Tanah Air, siswa pulang ke rumah pada siang hari, ketika orangtua mereka masih sibuk bekerja di luar rumah. Akibatnya, siswa pun kehilangan waktu untuk berinteraksi dengan keluarga inti.

Kondisi ini pula yang melatarbelakangi pemerintah waktu itu menerapkan banyak mata pelajaran di sekolah. Jika tidak banyak pelajaran, siswa akan banyak menganggur, akibatnya akan terbentuk problematika psikologis di kalangan siswa,” imbuhnya.

Banyaknya mata pelajaran memang akan menjadi beban tersendiri bagi siswa yang kurang mampu menangkap pelajaran. Akibatnya, mereka menjadi agresif dan mencari prlampiasan. Karena minimnya sarana olahraga tadi, maka pelampiasan itu pun terwujud dalam hal-hal yang tidak baik seperti tawuran antar pelajar.

“Padahal sekolah seharusnya menjadi pusat pembudayaan. Sekolah harus mampu mengubah anak yang suka marah menjadi tidak marah lagi. Bukan sebaliknya, anak malah suka tawuran seperti yang sering kita saksikan di media.” pungkasnya.//**(NUANSA Persada)

0 komentar:

Poskan Komentar